DAMPAK CORONA BAGI BISNIS UMKM
Virus corona: Pendapatan usaha kecil 'pupus' akibat covid
19, pemerintah siapkan bantuan sosial untuk pekerja harian
Hak atas fotoANTARA FOTO/MAULANA SURYAImage captionPresiden
Joko Widodo (Jokowi) akan memberi stimulus ekonomi kepada pelaku Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah (UMKM) guna menjaga daya beli para pengusaha kecil di
tengah tekanan ekonomi akibat pandemi virus Covid-19.
Pemerintah tengah menyiapkan bantuan sosial sektor
informal dan stimulus ekonomi bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, UMKM untuk
menjaga daya beli di tengah tekanan ekonomi akibat wabah Covid-19.
Status tanggap darurat yang diterapkan di beberapa wilayah
akibat wabah virus corona, membuat pekerja di sektor informal dan UMKM tak
bekerja dan terpaksa pulang kampung.
Ketua Asoasasi UMKM Indonesia, Ikhsan Ingratubun,
mengungkapkan pendapatan usaha UMKM "pupus" gara-gara wabah Covid-19,
sehingga mereka kesulitan untuk membayar biaya-biaya dan gaji atau honor
pekerja.
Dampaknya adalah banyak dari pekerja UMKM terpaksa pulang
kampung.
"Akibat dari Covid-19, mengakibatkan pupus habis
pendapatan per hari," ujar Ikshan kepada BBC News Indonesia.
- Pandemi virus corona pukul sektor
UMKM sampai 'kembang kempis'
- Virus corona: Dampaknya 'lebih
buruk daripada krisis finansial 2008'
- Dampak virus corona bagi
Indonesia, sepi turis hingga berpotensi gerus nilai ekspor
- Virus corona berpotensi
melenyapkan triliunan rupiah dari sektor pariwisata Indonesia
Di tengah ini, pemerintah mengatakan tengah menyiapkan
kebijakan bantuan sosial untuk menyokong sektor informal dan pekerja harian,
serta memberi stimulus bagi usaha kecil, mikro dan menengah.
Akan tetapi, pengamat Kebijakan Publik dari Universitas
Indonesia, Lina Miftahul Jannah, mengingatkan pemerintah perlu berhati-hati
agar kebijakan itu tepat sasaran dan tak mengulangi penyelewengan seperti dalam
penyaluran bantuan langsung tunai (BLT).
Selama delapan hari terakhir, tercatat 876 armada bus antar
provinsi yang membawa kurang lebih 14.000 penumpang dari Jabodetabek, menuju
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka
adalah pekerja informal yang mencari nafkah di ibu kota.
Mereka adalah pekerja warung, toko kecil, pedagang asongan,
pedagang di pasar, hingga pekerja lain yang menggantungkan hidup dari pendapatan
harian termasuk di pusat-pusat perbelanjaan dan pengendara ojek online.
Hak atas fotoANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRAImage
captionSopir bus menanti calon penumpang di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta.
Perlindungan sosial di sektor informal
Dalam rapat terbatas yang digelar, Presiden Joko Widodo
mengakui bahwa banyak pekerja informal di Jabodetabek yang terpaksa pulang
kampung karena penghasilannya menurun sangat drastis atau bahkan hilang sebagai
imbas dari penerapan status tanggap darurat yang membatasi aktivitas warga.
Dia mengatakan program perlindungan sosial dan stimulus
ekonomi bagi pelaku usaha informal dan UMKM harus segera diterapkan.
"Saya minta percepatan program social safety
net atau jaring pengaman sosial, yang memberikan perlindungan sosial
di sektor informal dan pekerja harian maupun program insentif ekonomi bagi
usaha mikro, usaha kecil, betul-betul segera dilaksanakan di lapangan,"
ujar Jokowi.
Hak atas fotoANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRAImage
captionPedagang memakaikan masker wajah pada manekin di pasar Aceh, Banda Aceh,
Aceh. Sejumlah pedagang pakaian di pasar tradisional tersebut mengaku omzet
menurun hingga 50 persen lebih akibat lesunya kunjungan konsumen sejak
merebaknya virus Corona (COVID-19).
"Sehingga para pekerja informal, buruh harian, semuanya
bisa memenuhi kebutuhan dasarnya sehari-hari," ujarnya lagi.
Ketua Asiasasi UMKM Indonesia, Ikhsan Ingratubun berharap
pekerja UMKM yang terpaksa dirumahkan juga menjadi tanggungan bantuan ini.
"Karena kita nggak mampu membayar, karena berdasar
pemasukkan daily. Sejak tutup awal Maret, berarti kita tidak mampu
membayar gaji karyawan yang kita rumahkan," kata dia.
Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator bidang
Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, bantuan sosial akan disalurkan
kepada 29,3 juta penerima bantuan langsung tunai (BLT) yang tergolong dalam
empat puluh persen warga miskin.
Hak atas fotoANTARA FOTO/MAULANA SURYAImage captionPerajin
membuat kerajinan aksesoris berkarakter hati dengan bahan baku tong bekas di
Pasar Kabangan Solo, Jawa Tengah.
Sekitar 15,2 juta di antaranya adalah masyarakat yang sudah
terdata sebagai penerima bantuan pangan non tunai, sementara sisanya masih
dalam pendataan.
Penyaluran BLT merupakan salah satu bagian dari paket
stimulus lanjutan yang kini sedang dipersiapkan oleh pemerintah.
Bantuan ini akan menyasar pekerja sektor informal, antara
lain pekerja warung, toko kecil, pedagang di pasar, hingga pekerja harian
lainnya termasuk di pusat-pusat perbelanjaan.
Namun, belum ada keterangan seperti apa skema penyaluran
bantuan tersebut dan berapa besaran BLT yang akan diberikan pemerintah.
Hak atas fotoANTARA FOTO/WAHYU PUTRO AImage captionPenjual
menata cabai yang harganya berangsur naik di Pasar Senen. Pemerintah akan
menyalurkan insentif berupa bantuan langsung tunai (BLT) untuk mendorong daya
beli masyarakat ditengah pandemi virus corona atau COVID-19.
Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia, Lina
Miftahul Jannah, pemerintah perlu mempertimbangkan skema penyaluran bantuan
untuk pekerja informal yang kebanyakan dari mereka tidak memiliki rekening
bank. Sehingga, penyaluran harus dilakukan secara tunai.
"Kalau bicara sektor informal, misalnya pengendara ojek
online, mereka dipastikan punya rekening, karena memang dari perusahaan mereka
mewajibkan [punya rekening]. Tapi bagaimana dengan pekerja informal lain yang
belum tentu punya rekening?," kata Lina.
Penyaluran secara tunai pun, lanjut Lina perlu hati-hati
agar kebijakan itu tepat sasaran dan tak mengulangi penyelewengan seperti dalam
penyaluran bantuan langsung tunai (BLT).
"Pembelajaran dari BLT, itu kan ada potongan-potongan
dari mulai entah RT, entah RW-nya. Artinya apa, tidak sampai full kepada
masyarakat," ujarnya.
Hak atas foto ANTARA FOTO/FAUZAN Image caption Pengendara ojek
online disebut sebagai salah satu pekerja informal yang menerima bantuan sosial
ini.
Berkaca pada apa yang terjadi di India yang kini tengah
menerapkan karantina wilayah atau lockdown, pemerintah India pekan
lalu telah mengumumkan bantuan senilai US$22 miliar bagi kaum miskin, yang
dicairkan melalui transfer tunai secara langsung, ada juga bahan pangan.
Namun, muncul kekhawatiran bantuan itu bakal tidak sampai ke
pihak yang benar-benar membutuhkan.
Keringanan pembayaran listrik
Ketua Asosiasi UMKM Indonesia, Ikhsan Ingratubun, berharap
pemerintah memberi keringanan pembayaran listrik dalam stimulus bagi UMKM yang
akan segera diumumkan.
Dia mengungkapkan bahwa stimulus yang sudah ada saat ini
bagi UMKM untuk menekan dampak ekonomi dari Covid-19 adalah keringanan
pembayaran utang dan pajak.
"Tetapi yang belum kita dengar adalah tentang
pembayaran listrik, penundaan pembayaran listrik," kata dia.
Hak atas fotoANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A/HP.Image
captionSeorang supir Bajai menunggu penumpang dengan mengenakan masker dari
tisu di Pasar Senen.
Padahal, biaya listrik merupakan salah satu komponen biaya
yang harus dikeluarkan oleh UMKM demi menjalankan operasional bisnisnya.
"Esensi dari jaminan sosial apabila menyentuh
pengeluaran yang dikeluarkan oleh para UMKM atau daily workers ini itu bisa
menjadi pelipur lara atau duka dari usaha kecil dan menengah akibat dari
Covid-19," cetusnya.
Adapun PLN mengungkapkan akan memberikan keringanan tarif
listrik di tengah wabah virus corona, baik untuk sektor rumah tangga maupun
industri.
Komentar
Posting Komentar